Sunday, September 20, 2015

gerakan peduli lingkungan

Memilah Sampah

untuk Lingkungan yang Lebih Sehat

Kisah bapak Jamahi yang sangat peduli terhadap masalah lingkungan terutama masalah sampah.

Masalah kebersihan lingkungan sudah seharusnya menjadi tanggung jawab setiap orang. Namun sayangnya banyak keluarga Indonesia masih menyepelekan masalah kebersihan lingkungan. Padahal justru kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkunganlah yang menjadi faktor utama yang dibutuhkan agar lingkungan tetap bersih dan sehat.
Lewat Project Sunlight Living Challenge, Unilever mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih peduli pada lingkungan demi masa depan generasi mendatang. Keluarga Jamahi Suragih dari Medan menjadi salah satu keluarga yang sudah mengikuti Sunlight Living Challenge ini. Salah satu yang menjadi tantangan adalah bagaimana pak Jamahi mengajak anggota keluarganya untuk menjadi lebih peduli terhadap lingkungan.
Pak Jamahi yang merupakan seorang kepala sekolah memang sangat peduli terhadap masalah lingkungan terutama masalah sampah di lingkungan rumah dan tempat kerjanya. Pernah suatu ketika ia menghentikan mobil yang dikendarainya karena anaknya membuang kulit buah rambutan melalui jendela mobil. Pak Jamahi kemudian menyuruh anaknya memungut sampah yang tadi dibuangnya dan menasehati anaknya agar tidak membuang sampah sembarangan. Pak Jamahi juga pernah menegur istrinya yang membuang tissue melalui jendela mobil. Sejak saat itu anak dan istrinya mulai membiasakan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan lagi.
Setelah mengikuti Sunlight Living Challenge, setiap anggota keluarga pak Jamahi mulai membiasakan membuang sampah dan memilahnya sesuai dengan jenis organik dan anorganik. Meskipun pada awalnya sulit, tapi lama kelamaan kebiasaan memilah-milah sampah mulai terlihat. Apalagi pak Jamahi memang sudah menyiapkan dua tempat sampah di masing-masing tempat di rumahnya untuk sampah organik dan anorganik.
Ketika tim mengunjungi rumah keluarga pak Jamahi di Medan, bapak Jamahi sedang menjelaskan perbedaan sampah organik dan anorganik kepada anak-anaknya. Beliau juga menjelaskan bahwa sampah-sampah tersebut masih bisa dimanfaatkan. Sampah organik misalnya, masih bisa dijadikan pupuk kompos, sementara anorganik bisa dibuat menjadi barang lainnya.
Hari itu keluarga pak Jamahi juga sibuk membuar cairan MOL yang terbuat dari campuran papaya busuk, air cucian beras, serta gula pasir. Cairan ini nantinya akan digunakan sebagai dekomposer kompos organik dari sampah keluarga. Setelah selesai membuat cairan MOL, tidak lupa pak Jamahi mengajak anak-anaknya untuk mencuci tangan dengan air dan sabun Lifebuoy.
Tidak hanya berupaya menjaga kebersihan lingkungan, kebersihan diri juga harus dijaga agar tercipta lingkungan hidup yang bersih dan sehat. Hal inilah yang menjadi salah satu tujuan Unilever dalam mengajak Anda untuk bergabung dalam Project Sunlight Living Challenge. Ikuti terus kisah keluarga pak Jamahi dan keluarga

No comments:

Post a Comment